29 Agustus 2014

Organisasi Mahasiswa Sebagai Alat Perjuangan

"Kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang yang berperasaan dan berfikiran waras ikut tersinggung, kecuali orang gila dan orang yang berjiwa kriminal, biarpun dia sarjana" 

Kalimat di atas adalah pernyataan dari Pramoedya Ananta Toer, sastrawan besar Indonesia, yang memiliki makna sederhananya adalah setinggi apapun pengetahuan manusia akan teori-teori dan makna dunia tapi jika tidak mencintai kemanusiaan, maka sia-sia ilmunya. Sebagai mahasiswa, selain belajar tentang ilmu, juga harus bisa memahami realita sosial-masyarakat, apa yang sedang berkembang di masyarakat, apa yang menjadi persoalan masyarakat, sehingga eksistensinya sebagai manusia terpelajar benar-benar bisa dirasakan oleh realita bahwa segala pengetahuannya terkonfirmasi oleh syarat-syarat untuk menjadi manusia yang bertanggung-jawab atas sosial-masyarakatnya. Untuk memahami apa yang terjadi di masyarakat, tidak bisa didapat dari bangku kampus atau silabus perkuliahan. Untuk itulah keberadaan organisasi mahasiswa sangat penting. Organisasi mahasiswa harus merupakan sebuah wadah yang bisa menunjukkan pada kenyataan sosial bahwa masih banyak kemiskinan, penindasan, diskriminasi dan ketidak-adilan dimana Negara abai terhadap kenyataan rakyat bawah, untuk itulah organisasi mahasiswa sangat dibutuhkan sebagai alat perjuangan untuk mencapai tujuan. Keberpihakan organisasi mahasiswa terhadap rakyat juga penting sebagai penilaian apakah organisasi mahasiswa itu serius dalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat, melihatnya dengan mengetahui orientasi gerakan mahasiswa tersebut apakah benar memperjuangkan rakyat?

Pendidikan sebagai sarana perjuangan

Belajar mengenai maksud dan orientasi (tujuan) pendidikan (dari TK hingga Profesor) harus lengkap secara utuh. Idealnya (agar berkualitas), pendidikan haruslah berkarakter mencintai kemanusiaan, atau dalam istilah terkenalnya adalah “memanusiakan manusia”. Pendidikan haruslah berorientasi pada pengenalan realitas diri manusia dan manusia itu sendiri, pengenalan yang obyektif dan subyektif, sekaligus. Kesadaran subyektif dan keadaan/realitas obyektif haruslah menjadi satu fungsi dialektik untuk memahami dunia dan kontradiksinya (bahwa ada yang menindas dan tertindas), hal tersebut harus dipahami oleh manusia (termasuk mahasiswa/peserta didik). Menurut ahli filsafat pendidikan bernama Paulo Freire, ada tiga unsur yang terlibat dalam dunia pendidikan. Yaitu: pengajar, pelajar/peserta didik, realitas dunia. Ketiga hal tersebut diklasifikasikan menjadi dua. Pertama, subyek yang sadar (cognitive): Pengajar dan Pelajar/peserta didik. Sedangkan yang kedua adalah obyek yang harus disadari (cognizible): Realitas dunia. 












Hubungan berkesinambungan (dialektik) seperti di atas itulah yang—menurut Freire—tidak pernah kita jumpai dalam pendidikan ”mapan” a-la borjuis sekarang ini. Sistem pendidikan yang ada hanyalah semata-mata menjadikan anak didik sebagai obyek deposito dan akan diambil keahliannya, dimanfaatkan ilmunya, untuk mengabdi pada kepentingan kapitalis memperkaya diri sendiri, menjadi individualis. Jadi, menurut Freire, anak didik adalah obyek investasi dan sumber deposito potensial. Pada akhirnya, peserta didik tak memiliki perspektif lain selain yang diajarkan oleh kurikulum kapitalis, peserta didik menjadi mesin. Dan yang paling parah adalah, peserta didik tidak diajarkan menjadi bagian dalam realitas dunia yang dipenuhi ketidak-adilan (penindasan), bahkan malah diperspektifkan menurut kelas kapitalis yang dominan dan menindas kaum miskin, acuh, cuek terhadap penderitaan rakyat. Maka, sebagai kaum mahasiswa-terpelajar, kita harus benar-benar mengerti bahwa apa yang telah kita capai harus diabdikan untuk kemanusiaan, perjuangan rakyat dan membela kaum tertindas.

Kapitalisme penyebab pendidikan mahal

Mengapa demikian? Karena kapitalisme menciptakan landasan agar Indonesia (dan Negara berkembang lainnya) menjadi ketergantungan akan tehnologi dan ilmu pengetahuan terutama terkait dengan penguasaan asset sumber daya alam sebagai salah satu sumber kekayaan Negara selain pajak. Hilangnya kedaulatan Indonesia atas sumber daya alam membuat Negara ini menjadi miskin, banyak hutang, ketergantungan (dependency) tehnologi sehingga kekayaan Negara sangat terbatas, tidak mampu menjalankan program pendidikan gratis yang berkualitas dan modern. Apalagi muncul persoalan bahwa semakin hari kesenjangan social Indonesia semakin lebar, yang kaya pertumbuhannya cepat (semakin kaya)-semakin mengerucut pada sedikit orang, sedangkan yang miskin angka daya belinya semakin jatuh dan jumlahnya makin luas. Bisa dibayangkan dalam akses pendidikan, artinya, yang menikmati pendidikan tinggi berkualitas hanyalah mereka yang punya uang.

Kesenjangan terhadap akses pendidikan terlihat pada angka partisipasi murni SMA. Tahun 1992, 20% orang termiskin angka partisipasi murni SMA-nya sebesar 6%, sedangkan 20% orang terkaya angka partisipasi murni SMA-nya sebanyak 61%. Tahun 2002, 20% orang termiskin angka partisipasi murni SMA-nya sebesar 19%, sedangkan 20% orang terkaya angka partisipasi murni SMA-nya sebanyak 62%. Tahun 2010, 20% orang termiskin angka partisipasi murni SMA-nya sebesar 28%, sedangkan 20% orang terkaya angka partisipasi murni SMA-nya sebanyak 69%.

Pada angka partisipasi Perguruan Tinggi: Tahun 1992: angka partisipasi murni PT dari 20% orang termiskin sebesar 0,1%, sedangkan angka partisipasi murni SMA dari 20% orang terkaya sebesar 25,6%. Tahun 2002: angka partisipasi murni PT dari 20% orang termiskin sebesar 0,6%, sedangkan angka partisipasi murni PT dari 20% orang terkaya sebesar 26,3%. Tahun 2010: angka partisipasi murni SMA dari 20% orang termiskin sebesar 1,3%, sedangkan angka partisipasi murni SMA dari 20% orang terkaya sebesar 36,7%. Data tersebut membuktikan bahwa Perguruan Tinggi masih sangat eksklusif. Bila dikonversi dalam grafik akan terlihat seperti ini:


Hegemoni kesadaran (palsu) lewat dunia pendidikan

Begitu terus dan seterusnya. Isi kepala mahasiswa dijejali dengan doktrin ideologi melalui instrumen pendidikan. Kurikulumnya, arah akademiknya, teori-teorinya, dll dikanalkan menuju satu muara, yaitu rimba kesadaran kapitalisme. Makin individualis, makin jauh dan samasekali jauh dengan realitas objektif dunia. Kapitalisme sukses merancang bagaimana mekanisme ideologi tersebar luas dengan efektif (baca: hegemoni) melalui media pendidikan sekolah/kampus. Hingga, keluar sedikit saja dari bangunan ide-ide kapitalisme merupakan sebuah kesalahan besar dan dianggap tidak wajar, dll. Dalam situasi tersebut, kaum perempuan yang paling tidak diuntungkan karena memperlambat proses kesetaraan (pembebasan perempuan). Pendidikan formal maupun non-formal borjuasi juga menyumbangkan pengawetan terhadap patriarki (penindasan perempuan). Kapitalisme tak pernah tulus memajukan produktifitas perempuan. Dalam dunia pendidikan, kapitalisme seolah-olah sudah ”membela” perempuan dengan mewacanakan istilah ”wanita karir”. Bagi perempuan terpelajar yang telah lulus dari bangku kuliah, diorientasikan berbondong-bondong membantu memutarkan baling-baling industri (kantoran dan lapangan), tapi dengan upah yang sangat tak sebanding dengan keuntungan majikan. Belum lagi masalah kurikulum pendidikan yang tidak setara (tidak berperspektif pembebasan perempuan), dll dan banyak lagi.

Contoh baik bagi pendidikan dari Amerika Latin: Bagaimana pendidikan di negara sosialis (Kuba dan Venezuela)

Hal yang paling mendasar dari pembangunan kualitas tenaga produktif adalah memajukan kualitas pendidikan dan kesehatan manusianya (sebagai tenaga penggerak). Pendidikan dan kesehatan manusia adalah suatu modal dasar (human capital) pembangun, penggerak revolusi. Maka, seharusnya pendidikan adalah hal yang paling mendasar untuk dipenuhi kualitasnya dan diberikan semaksimal mungkin kepada rakyat secara massal dan gratis. Tapi oleh kapitalisme, yang diutamakan adalah pemenuhan modal keuangan dimana tenaga manusianya dipekerjakan––tanpa menilai kapasitas manusia tersebut––untuk mendongkrak laba produksi. Ujung-ujungnya adalah rendahnya upah buruh, peraturan yang tak memihak buruh, hak-hak fundamental buruh tak terpenuhi.

Di Kuba, negerinya makmur. Sejak 58 tahun lalu (1 Januari 1956), dengan dukungan 82 pejuang yang dilatih Alberto Bayo (bekas kolonel tentara Spanyol), Fidel Castro mampu menggulingkan rezim kediktatoran Fulgencio Batista yang berkuasa di negeri itu sejak tahun 1956 dan Batista kemudian melarikan diri pada 1 Januari 1959. Di negeri makmur tersebut, terdapat 97 persen penduduknya (usia di atas 15 tahun) bisa membaca dan menulis. Dan sekarang 0 persen buta huruf. Dalam proses belajar-mengajarnya, perbandingannya adalah dua puluh murid : satu guru, untuk sekolah dasar. Untuk menengah, satu guru : lima belas murid. Mereka juga menerapkan prinsip “pendidikan kaum tertindas” dengan memberikan metode dialogis antara pengajar-murid-orang tua. Hubungan ketiga unsur tersebut dikelola secara kolektif dalam makna mendekatkan secara psikologis. Hal seperti itu, di Indonesia memang sudah dipraktikkan di beberapa sekolah yang bertaraf internasional, yang biayanya selangit. Hubungan-hubungan dalam civitas akademik merupakan hubungan yang berlandaskan pada nilai nilai tinggi tentang solidaritas antar kelas, penghargaan kepada lingkungan hidup dan prinsip kemandirian, turunan ajaran dari sosok Ernesto Che Guevara. Situasi tersebutlah yang memunculkan nilai baik dari hubungan guru dan murid, yang berlangsung intensif.

Di Kuba maupun Venezuela bisa dibilang sangat terjamin kesejahteraan rakyatnya, termasuk yang terlibat dalam dunia pendidikan. Tanggal 14 Mei 2009 menyatakan, pemerintah Venezuela menetetapkan 30 persen kenaikan gaji dan menambah tingkat pendapatan bagi sekitar setengah juta guru yang masih aktif maupun yang sudah pensiun . Menurut Menteri PendidikanVenezuela: guru-guru sekolah umum Venezuela sekarang memperoleh lebih dari 700% dari apa yang mereka telah peroleh sepuluh tahun yang lalu, ketika Presiden Hugo Chávez pertama kali terpilih. Guru di Venezuela memiliki kesejahteraan yang sangat mencukupi dalam hal gaji dan juga kemampuan berorganisasi dan pengetahuan politik. Tidak hanya itu, pemerintah Venezuela juga memberikan jaminan transportasi, kesehatan bagi guru-guru yang masih aktif maupun yang sudah pensiun, dan juga memberikan cuti hamil.

Jalan keluar bagi pendidikan gratis

Dalam statuta Universitas Gajah Mada tahun 1951 telah dijelaskan tentang tujuan UGM yaitu ”menyokong sosialisme pendidikan”, tapi oleh orde baru, pasal tentang ”menyokong sosialisme pendidikan” dihapuskan tahun 1992. Kini, pendidikan kita semakin carut marut dalam perwujudannya. Mahal dan tak terjangkau rakyat miskin yang mayoritas di negeri ini. Hasil Ujian Nasional tingkat Sekolah Menengah Atas, baik SMA/MA/SMK diumumkan Senin 26 April 2010. Hasilnya mencengangkan. Dari 1.522.162 siswa secara nasional yang mengikuti UN terdapat 154.079 siswa (9,88 persen) yang harus mengulang (pada 10-14 Mei 2010). Dan terdapat 267 sekolah, yang terdiri atas 51 sekolah negeri dan 216 sekolah swasta (dari 16. 467 sekolah tingkat atas) secara nasional tidak ada satupun siswanya yang lulus UN. Angka kelulusan UN tahun ini menurun dibanding dengan kelulusan UN 2009. Yaitu dari UN 2009 yang mencapai 95,05 persen menurun pada tahun 2010 menjadi 89,61 persen. Jika dilihat dari jumlah kekayaan negara kita, sama sekali tak layak jika melihat kondisi pendidikannya. Kemajuan tenaga produktif rakyat (salah satunya) terletak pada kondisi manusianya, pendidikan dan kesehatannya. Adalah hal yang kontradiktif jika negeri kaya tapi rakyatnya tak berdaya beli dalam dunia pendidikan. Secara programatik peningkatan kekayaan Negara untuk pembiayaan rakyat harus merupakan program yang benar-benar efektif seperti menasionalisasi seluruh asset Negara (termasuk asset tambang dan perbankan), menghentikan pembayaran hutang hingga rakyat sejahtera, memaksa kepada orang kaya untuk membayar lebih pada Negara melalui progressive tax (pajak progresif). Tentu, menjalankan program seperti itu akan sangat dimusuhi Negara kapitalis, maka kekuatan paling ampuh menandinginya adalah membangun kolektif perjuangan antara mahasiswa dan rakyat yang sadar dan mau memperjuangkan masa depannya, setidaknya mahasiswa-rakyat harus mulai memprakarsai penciptaan gerakan sosial-politik. Selesai.

Salam Pembebasan Nasional !

(Departemen Pendidikan dan Propaganda)

               

06 Agustus 2014

Ariel 'Noah' dan Jim Morison Dalam Mitologi



“They don’t want me, they want my death”
---Val Kilmer as Jim Morrison in Oliver Stone’s The Doors

Yesus mengorbankan dirinya: daging dan darahnya dipersembahkan untuk murid-muridnya sebagai representasi dari umatnya dalam perjamuan terakhir. Inilah sebuah metafor purba tentang selebriti, tentang idolisasi (idolatry) dan tentang bagaimana manusia yang memakan daging dan darah-Nya adalah konsumen tanda. Yesus adalah selebriti. Begitupun para pahlawan terkenal, para nabi dan para figur publik. Dan selebriti adalah: Mitos.

Roland Barthes (1982), pakar semiotik dan strukturalisme, mengatakan bahwa mitos adalah bagian dari sistem tanda yang sudah tidak bisa (atau tidak diperdulikan) lagi asal-muasalnya. Dengan kata lain, ia tidak dianggap lagi sebagai manusia yang mampu berdialog dan mempertahankan posisinya, tetapi hanya dianggap sebagai teks. Teks yang permaknaannya tergantung publik.

Mitos terbentuk dari idolisasi. Herkules, Achiles, Perseus, dan dewa-dewa Yunani Kuno dibentuk dengan cara yang sama. Imaji tentang Tuhan-pun dibentuk dengan cara yang sama. Ada dakwah, ada pesebaran propaganda, informasi, berita, cerita-cerita, narasi, dan pada akhirnya dongeng atau, dalam bentuk paling ekstrim, agama yang terinstitusi. Mitos membentuk identitas dan perilaku masyarakat, kata Levi-Strauss (1955), dan inilah yang selalu terjadi dalam peradaban manusia. Mitologi, karenanya, dalam masa sekarang kita bisa sebut sebagai media.

Idolisasi adalah bagian dari sistem bermasyarakat yang universal. Ia ada di semua masyarakat dari suku bangsa manapun dari waktu manapun. Sang Idola biasanya tidak melawan ketika dimaknai—karena dia hanya teks. Idola ini (atau orang-orang di belakangnya—dan ini yang penting) berusaha membuat kesan dan tanda untuk dikonsumsi agar ia bisa tetap hidup sebagai teks di dalam masyarakat. Para penganutnya setia dalam memaknai sang idola. Mereka menolak persepsi baik pada idola yang jahat (misalnya setan) dan menolak persepsi buruk pada idola yang baik (misalnya Tuhan atau Nabi). Begitu diterbitkan, tanda bisa diinterpretasi secara bebas. Para Idola yang memaksakan kehendaknya di masyarakat akan menjadi tiran dan pada akhirnya akan dianggap negatif. Diktator macam pak Harto, misalnya, harus rela dianggap jahat ketika kekuasaannya mempertahankan imej hilang.

Narasi-narasi dalam mitologi membentuk identitas dan kesadaran manusia. Marx dalam Fuerbachian Criticism of Hegel (1967) membahas bagaimana tuhan adalah proyeksi/karya manusia yang teralienasi dari manusia sendiri. Tuhan adalah buatan manusia yang disembah-sembah dan menimbulkan fetisisme seperti halnya seorang tukang sepatu yang tak mampu membeli sepatu dan menganggap sepatu yang dibuatnya sebagai bukan karyanya. Adorno (2004) mengembangkan teori Marx untuk memberikan definisi tentang seni rendah-seni tinggi di mana seni rendah adalah seni komoditas yang dicopy dan diperjualbelikan untuk mengatur kelas pekerja, sementara seni tinggi adalah seni otentik dengan kerumitan dan kekhususan yang sulit untuk ditiru. Keduanya—agama dan seni rendah—dianggap sebagai cara untuk ‘membodohi’ kelas pekerja dengan kesadaran palsu agar tidak melawan. Jika ‘media’ adalah kata modern untuk ‘mitos’, maka Noam Chomsky (1977) berkata hal yang sama:

The real mass media are basically trying to divert people. Let them do something else, but don’t bother us (us being the people who run the show). Let them get interested in professional sports, for example. Let everybody be crazed about professional sports or sex scandals or the personalities and their problems or something like that. Anything, as long as it isn’t serious. Of course, the serious stuff is for the big guys. "We" take care of that.

Media massa yang sebenarnya berusaha untuk mengalihkan orang-orang. Membiarkan mereka melakukan hal-hal lain, asal jangan memperdulikan kami (kami yaitu orang yang menjalankan acara). Biarkan mereka tertarik dengan olahraga profesional, contohnya. Biarkan semua orang tergila-gila dengan olahraga profesional atau skandal seks atau kepribadian dan masalah-masalah mereka atau apapun itu. Apapun, selama itu tidak serius. Tentu saja, yang serius-serius untuk orang-orang besar. “Kami” mengurus itu.
Dari sini kita bisa melihat bahwa beberapa kritikus budaya yang memandang nyinyir mitologi atau folklore—dua wacana yang sangat diakrabi ilmu antropologi klasik—sebagai akar pembagian kerja dan alienasi, kontra-revolusioner, dan penipuan publik. Idola-idola menjadi narasi yang menanamkan kepercayaan tentang hierarki dan posisi oleh karena itu menjaga sistem kelas seperti semestinya; seperti sejarah yang diklaim dan dibentuk penguasa untuk menguatkan kekuasaannya.

Namun kadang-kadang, ada idola-idola yang menjadi anomali. Idola-idola yang dengan merusak bentuknya sebagai tanda, sebagai mitos, mampu merusak sistem; mengekspos kemunafikan dan membongkar penyakit sosial di dalam sistem yang banal. Itu adalah saat sang idola mengeluarkan sisi kemanusiaannya, sisi individualitas dan kebebasan absolutnya sebagai seorang manusia. Di situ sistem akan goyah dan dipaksa mencari titik keseimbangan baru. Sebagai contoh, tulisan ini akan mencoba menghadirkan dua idola/mitos : Ariel ‘Noah’ dan Jim Morrison.
***

Sebelum lebih jauh membahas hal ini, saya perlu tekankan bahwa Ariel ‘Noah’ sebagai seorang individu tidak bisa dibandingkan dengan Jim Morrison dari segi pemikiran filosofis dan intelektualitas karena mereka berasal dari kebudayaan dan masa yang benar-benar berbeda. Mereka saya pilih untuk dibahas karena ada satu hal yang menurut saya sama: mereka berdua pernah menjadi ‘the ultimate Barbie doll’ dari dunia entertainment, dunia banalitas budaya pop, pada konteks waktu dan tempatnya sendiri-sendiri. Perbandingan kedua orang ini sebagai wacana saya rasa adalah contoh yang baik untuk melihat fenomena budaya populer dan sebuah usaha melihat dua kebudayaan secara horizontal.

The Ultimate Barbie Doll adalah sebuah fenomena penting di dalam perkembangan kebudayaan modern Amerika dimana seorang idola dipandang sebagai objek seksual. Yang menarik dari Ariel dan Morrison adalah sebuah keterbalikan jender: maskulinitas yang biasaya subjek seksual, diobjektifikasi sebagai sesuatu yang indah dan menggairahkan. Jim Morrison muda dengan celana kulit ketatnya dan sifat kekanak-kanakkannya atau Ariel ‘Noah’ yang sering telanjang dada di panggung untuk menunjukan dadanya yang bidang dan ototnya yang mengkilat karena keringat, juga dengan celana ketat. Tidak semua idola bisa menjadi begini. Hal ini tergantung pada konteks dan imej yang dibangun. Contohnya Iwan Fals Muda yang telanjang dada, brewokan, dan menunjuk ke aparat sambil berteriak ‘Bongkar!’ lebih menjadi provokator daripada objek seks karena saat itu yang dilawan adalah tiran politik.

Media membuat Ariel dan Morrison menjadi bintang. Keduanya adalah penulis lirik-lirik lagu yang kaya metafora dan menjadi hits. Dan, yang perlu ditekankan, keduanya adalah pemain cinta. Ketika Ariel ‘dikatakan konon’ telah memproduksi 32 video seks pribadi dengan perempuan-perempuan selebriti yang berbeda-beda, Jim Morrison telah berhubungan seks dengan lebih dari 40 orang perempuan (Stone, 2000). Secara lebih ekstrim, buku berjudul Sex Revolt (1996) bahkan pernah mengutip sebuah gossip di media tentang Jim yang ‘diperkosa’ oleh beberapa perempuan, salah satunya ratu musik soul kenamaan Janis Joplin.

Indonesia sekarang (hampir) mirip sekali dengan Amerika Serikat pada akhir 1960-an dan awal 1970-an secara sosial-ekonomi. Konsumerisme tinggi, pemerintah penuh dengan korupsi, politik bisa dibilang stabil (karena tidak ada kudeta ekstrim meski sistemnya busuk—mungkin banyak orang Indonesia nyaman dengan kebusukan ini) dan kaum konservatif-fundamentalis-ekstrimis menjamur. Kehadiran Ariel ‘Noah’ di tengah-tengah industri hiburan adalah sebuah fenomena langka: dia tampan, menebarkan keseksiannya, bisa bernyanyi dan mencipta lagu, dan seorang penghibur yang komunikatif. Banyak fansnya tidak terlalu memperhatikan arti lirik-lirik yang ia ciptakan karena ia telah menjadi mitos. Persis Jim Morrison pada masa kejayaannya yang digilai penggemar cuma karena fisik dan imej-nya.

Ariel dan Jim muda tidak mengubah apa-apa meski mereka telah menjadi mitos. Di Indonesia, ‘Noah’ adalah salah satu band yang memprakarsai kejatuhan musik mainstream Indonesia. Band-band baru pop melayu meniru-niru teknik vocal Ariel, chord lagu, gaya dan beberapa kata-kata di dalam lirik seperti ‘bintang’ atau ‘menunggu’, tapi tidak bisa mencipta kedalaman metafora dan refleksi perenungan seperti “Apa yang kuinginkan tak pernah jadi kehidupan, apa yang kulakukan menjauh dari kenyataan….melihat di balik awan.” Jim Morrison muda pun tidak bisa memperbaiki sistem Amerika Serikat yang ia kritik pada saat itu ketika masyarakatnya menghabiskan pengeluaran untuk minuman alkohol dan narkotik jauh lebih besar daripada untuk pendidikan. Padahal lirik-lirik lagunya sudah memperingatkan tentang kematian kemanusiaan, dan neo-kolonialisme (lihat lirik The End) atau kekhawatiran yang terbentuk dari kebingungan masyarakat kapitalis dan budaya konsumerisme (lihat lirik Soft Parade). Media dan fans (atau umat) tidak memperdulikan kemanusiaan dan individualitas idolanya, tapi terus menerus mengelukan imej mereka, mitos mereka. Lalu yang terjadi adalah sebuah perlawanan, sebuah kenyataan pahit bahwa mereka berdua adalah manusia yang memiliki sisi abnormalitas tinggi.

Ariel kehilangan imejnya sebagai bintang berwajah melankolis, pencipta lagu hits yang nampak seperti pria baik-baik, ketika video seksnya bebas diunduh secara mudah. Karirnya hancur karena skandal ini dan ia dinyatakan bersalah hingga harus masuk bui. Di sisi lain, Jim Morrison sempat lelah dengan ketenarannya. “Girls want my dick, not my words,” ucap Jim dalam rekaman An American Prayer. Ketika skandalnya terbuka: beberapa perempuannya hamil dan minta tanggung jawab, ia juga masuk ke penjara dan diadili akibat perbuatan tidak senonoh (kencing di panggung Miami dan membuat kerusuhan); kebebasannya sebagai manusia terkekang sama sekali dan awal tahun 1970 ia harus masuk rehab karena ketergantungannya pada narkoba dan depresi yang akut.

Sampai tulisan ini ditulis, Ariel masih dipenjara dan dari dalam bui mengeluarkan satu single. Di waktu dan tempat yang lain, menjelang akhir 1970, Jim Morrison kembali dari pengasingannya. Umurnya 26 tahun namun fisiknya seperti pria 65 tahun. Ia masih minum-minum namun ada dalam tahap yang menurut saya paling sempurna di hidupnya: seorang tua yang bahagia bagai sang Buddha yang diangkat ke Nirwana. Di sini pamornya sebagai Ultimate Barbie Doll sudah jatuh. Ia tidak lagi seksi, tapi gemuk. Tidak lagi tampan tapi berewokan. Para penggemarnya berkurang, tapi yang tersisa benar-benar mendengarkan liriknya, puisinya. Jim telah membuat imej yang ia inginkan sendiri, bukan aturan korporat atau sistem.

Yang pasti, Ariel dan Jim telah membuat keseimbangan sistem dan struktur masyarakat menjadi goyah. Sebagai idola, mereka telah membuat skandal. Efeknya adalah sebuah masyarakat yang sudah sepatutnya merenungi etika dan moral yang telah pudar dan hancur dimakan keserakahan akan konsumsi akan idola/mitos. Sebuah kenyataan bahwa seks dan konsumerisme sudah begitu bebasnya hingga nilai-nilai hancur, nihilisme berkuasa, tujuan hilang, institusi kemapanan goyah dan imej hierarki kapital runtuh. Sudah seharusnya masyarakat mencari keseimbangan baru.
***

Jim dan kawan-kawan flower generation-nya telah membuka mata masyarakat Amerika tentang kebobrokan sistemnya. Masa Beat-generation adalah salah satu turning point tertajam Amerika. Sistem pendidikan mulai diperbaiki, segala hal yang tabu seperti seks dan kritik sejarah, mulai dibuka aksesnya ke ranah pendidikan wajib. Kebebasan diberikan dengan pemantauan dan pengembangan. Pemerintah dan pengkaji budaya bisa membaca apa yang bisa dilakukan masyarakatnya melalui skandal selebriti-selebriti ini: sadomaskisme, homoseksual dan biseksual mulai diakui keberadaannya, narkoba semakin dipersempit geraknya, dan media mulai menyadari bahwa mereka sudah benar-benar membunuh mitos-mitos yang mereka besarkan sendiri. Ini juga bisa diinterpretasikan kenapa perlahan-lahan para raja entertainment mati tanpa ada regenerasi—Michael Jackson adalah yang terakhir. Era para Raja dan idola sudah berakhir di Amerika.

Hal yang serupa tidak terjadi di Indonesia. Ruang privat selebriti yang secara ekstrim dibuka skandal Ariel, alih-alih membuka topeng kemunafikan, malahan memberikan semacam reality-by-proxy atau ‘kenyataan-yang-dekat’ dengan para fansnya. Kedekatan semacam ini bertransformasi secara simbolik dalam bentuk infotainment yang menguasai 70% acara televisi nasional dari pagi sampai malam dan membahas secara berulang-ulang narasi kehidupan privat para selebriti—bukan produk mereka. Dominasi infotainment di televisi nasional menjadi bahasan penting karena dari situ kita bisa melihat sebuah kebanalan tanpa pilihan yang membuat mitos dianggap sebuah kenyataan yang dekat. Pembicaraan tentang figur publik dari internet sampai dapur pribadi tak jauh beda seperti pembicaraan tentang skandal tetangga, kawan atau saudara dekat yang menjadi bahasan sehari-hari. Narasi-narasi ini begitu populer saat ini dengan kebanalannya: seorang musisi menikah secara besar-besaran dan mantan istrinya datang dengan suami barunya, seorang pengacara membelikan anak perempuannya mobil seharga miliaran padahal anaknya cuma minta martabak, seorang kekasih selebriti memalsukan identitasnya, dan seterusnya.

Gosip difabrikasi dan kenyataan diverifikasi dalam sebuah siklus pabrik semiotis artifisial citraan-citraan. Bukannya kemunafikan berusaha diredam, tapi malah diumbar dengan usaha untuk membuat citraan yang baik dengan cara yang sangat buruk dan menghasilkan performance yang absurd. Seperti narasi tentang seorang penyanyi dangdut yang menikah dengan ‘janda kaya’ yang dirangkai dengan musik horror, narasi mencekam, dan gaya investigasi kriminal pembunuhan berantai. Sangat postmodern, sangat bebas dan semaunya, sangat banal, dan sangat tidak masuk akal. Dalam mitologi seperti inilah kebudayaan dominan Indonesia kontemporer sedang dibangun.

Di negara-negara kapitalis lain, media memiliki banyak cabang dan fungsi. Orang bisa memilih berbagai macam acara yang tidak melulu infotainment. Tapi tidak di negeri ini. Jika TV dikuasai infotainment, kemana larinya wacana politik? Kemana perginya kasus-kasus lama yang belum terkuak? Siapa yang masih peduli akan Widji Thukul, mahasiswa-mahasiswa yang diculik dan dibunuh sebelum 1998, Munir, atau Prita yang kasusnya masih mengambang? Nampaknya kalau tak sedikit, tak ada. Toh, Trending topic twitter tertinggi di Indonesia tahun 2011 hingga sekarang tak jauh-jauh dari wacana-wacana selebriti dari Briptu Norman hingga Lady Gaga. Apakah pendapat Marx, Adorno dan Chomsky masih relevan di negeri ini, bahwa hal remeh temeh dan tidak penting diciptakan untuk kelas pekerja? Apakah Ariel benar-benar jauh dari Jim Morrison sehingga efek filosofis Morrison tidak mungkin terjadi di negeri ini? Benarkah dominasi acara tak penting di TV nasional adalah manipulasi kelas penguasa? Saya tidak ingin menjawab semua itu. Saya memilih untuk menutup tulisan ini dengan sebuah cerita fiksi dan membiarkan anda menyimpulkan sendiri:
Jeany adalah seorang anak SMU dari keluarga menengah kelas atas Indonesia. Ia sekolah di sekolah internasional dan sering jalan-jalan ke luar negeri dengan orang-tuanya Ia adalah anak salah satu pengusaha paling kaya di Indonesia yang juga seorang pejabat pemerintah dan pembesar partai. Suatu hari ia pulang ke rumah, menyalakan TV kabelnya dan memilih saluran. Tentunya tayangan TV nasional (dua di antaranya milik ayahnya) yang berisi infotainment ia lewatkan. Ia berhenti menekan remote dan mulai menonton sebuah program international E! Entertainment yang membahas pita pink yang dipakai Miley Cyrus dalam sebuah acara. Pita pink dibahas hampir satu jam, dan ia tidak melewatkannya semenit-pun. Untuk Jeany, pita Pink Miley Cyrus jauh lebih penting daripada nonton stasiun TV ayahnya yang membahas Saipul Jamil yang ingin bangun mesjid. Jeany adalah masa depan kaum menengah atas yang akan mengurus hal-hal ‘penting’ di negeri kita. Ia hanya menonton ‘yang penting-penting saja’ sebelum nanti malam dugem bersama kawan-kawannya. 

05 Agustus 2014

Essay Pramoedya Ananto Toer: Maaf Atas Nama Pengalaman

Jakarta, November 1991

Sejak 17 Agustus 1945 aku menjadi warganegara Indonesia, sebagaimana halnya dengan puluhan juta orang penduduk Indonesia waktu itu. Waktu itu umurku 20. Tetapi aku sendiri berasal dari etnik Jawa, dan begitu dilahirkan dididik untuk menjadi orang Jawa, dibimbing oleh mekanisme sosial etnik ke arah ideal-ideal Jawa, budaya dan peradaban Jawa. Kekuatan pendidikan yang dominan dan massal adalah melalui sastra, lisan dan tulisan, panggung, musik dan nyayian, yang membawakan cuplikan-cuplikan dari Mahabharata: sebuah bangunan raksasa yang terdiri dari cerita falsafi dan tatasusila, acuan-acuan religi, dan dengan sendirinya resep-resep sosial dan politik. Enerzi, dayacipta, pergulatan, telah dikerahkan berabad, melahirkan candi-candi dan mythos tentang para raja yang sukses, dan mendesak dewa-dewa setempat menjadi dewa-dewa kampung. Untuk itu "jutaan" manusia sepanjang sejarah etnikku terbantai. Tentu saja tidak angka resmi bisa ditampilkan. Yang jelas, sejalan dengan pendapat pakar Cornell, Ben Anderson, klimaks Mahabharata adalah "mandi darah saudara-saudara sendiri". Memang pada jamannya sendiri bangsa-bangsa lain juga pernah mengalami peradaban dan budaya 'kampung' demikian. Yang berhasil keluar dari kungkungannya, jadilah bangsa yang merajai dunia.

Pada awal abad 17 masyarakat Belanda menghimpun dana untuk membiayai pelayaran-pelayaran mencari rempah-rempah, melintasi sejumlah samudra dan menghampiri sejumlah benua. Di negeriku, beberapa belas tahun kemudian, tepatnya pada 1614, raja Jawa yang paling kuat dan berkuasa, raja pedalaman, generasi kedua dan raja ketiga Mataram, Sultan Agung, justru menghancurkan negara bandar dagang Suarabaya, hanya karena membutuhkan pengakuan atas kekuasaannya. Ironi histori Jawa termaktub di sini: pada waktu Belanda mengelilingi dunia mencari rempah-rempah, Surabaya suatu bandar transit rempah-rempah yang sama untuk konsumsi internasional dihancurkan oleh seorang raja pedalaman Jawa, Sultan Agung.

Mataram sendiri adalah kerajaan kuat kedua di Jawa yang menyingkiri laut karena tidak ingin menghadapi kedahsyatan Portugis di laut. Sultan Agung ini juga yang gagal total menghalau koloni kecil Belanda di Batavia pada 1629. Kekalahan itu membuat Mataram kehilangan Laut Jawa, laut pelayaran internasional pada masanya. Untuk menghilangkan malu yang diderita, untuk memperthankan kewibawaan Mataram, para pujangga etnik Jawa berceloteh, bahwa pendiri Mataram, ayah Sultan Agung, mempersunting puteri Laut Selatan (pulau Jawa), Nyi Roro Kidul. Untuk menyatakan, kata Prof. H. Resink, bahwa Mataram masih punya keterlibatan dengan laut.

Dalam kronik etnik Jawa, Sultan yang satu ini diagungkan begitu tinggi dengan membuang segala faktor yang memalukan. Juga dalam pengajaran sejarah dalam Republik Indonesia sekarang. Orang akan membelalak bila mengikuti materi tertulis orang Barat tentang dia. Sedang pendiri Mataram, Sutawijaya, dengan dalih ingkar janji sebagai didendangkan oleh para pujangga etnik Jawa, marak jadi raja setelah membunuh ayah angkat yang membesarkannya, yang memberinya fasilitas sebagai seorang pangeran. Kronik yang diwariskan pada kami tidak pernah ada yang menyinggung tentang nurani, yang nampaknya memang tak terdapat dalam pembendaharaan bahasa Jawa.

Diawali dengan kekalahan Sultan Agung, hilangnya kekuasaan atas jalur dagang di L. Jawa, beroperasinya kapal-kapal meriam Barat, golongan menengah Jawa, yang senyawa dengan pemilikan kapal dan pedagang antar-pulau serta internasional terhalau dari bandar-bandar dan tergiring ke pedalaman, menjadi mundur, dan terjatuh dalam kekuasaan satria pedalaman dan ikut mundur.

Namun para pujangga pengabdi sistim kekuasaan, menyingkirkan kenyataan yang menggejala ini. Setelah Sultan Agung marak, Mataram ke 4 justru bersahabat dengan Belanda. Para pujangga tetap tidak mengambil peduli. Nyai Roro Kidul, justru dibakukan sebagai kekasih setiap raja Mataram, generasi demi generasi, dikembangkan kekuasaannya sedemikain rupa sehinggga menjadi polisi. aneh tapi nyata bahwa semua ini terjadi sewaktu Jawa praktis mulai memeluk Islam. Penyebaran agama baru ini tidak disertai peradabannya sebagaimana halnya dengan hindusisme, karena praktis sebagai akibat sekunder dari terhalaunya para pedagang Islam dari jalur laut oleh kekuatan Barat yang Nasrani, kelanjutan dari penghalauan atas kekuasaan Arab di Semenanjung Iberia. Dapat dikatakan penyebaran Islam di Jawa adalah akibat sekunder dari gerakan Pan-Islamisme internasional pada jamannya.

Lebih mengherankan lagi bahwa pada waktu tulisan ini dibuat, Nyai Roro Kidul telah dianggap menjadi kenyataan. Sebuah hotel di pantai selatan Jawa Barat menyediakan kamar khusus untuk Dewi Laut Selatan tersebut. Bagaimana bisa terjadi suatu negara yang berideologi Pancasila, dengan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai silanya yang pertama menerima kehadiran seorang dewi laut, kekasih para raja Mataram. Para pujangga tidak pernah teringat bahwa dengan kekuasaan tanpa batas Dewi Laut Selatan, Mataram tidak pernah menang dalam konfrontasinya dengan kekuasaan Barat yang datang dari ujung dunia.

Sejak kegagalan Sultan Agung, Jawa tetap terkungkung dalam peradaban dan budaya 'kampung', ditelan mentah-mentah oleh Belanda selama 3 1/2 abad. Sungguh tragi-komedi yang mengibakan. Sedang Belanda datang hanya dengan kekuatan sebiji sawi, bangsa berjumlah kecil, negeri kecil, di ujung utara dunia, setelah melintasi Samudera Atlantik, Hindia, Pasifik. Juga dalam perut kekuasaan Belanda, Jawa tetap memuliakan peradaban dan budaya 'kampung'nya dengan klimaks 'kampung'nya: "mandi darah saudara-saudara sendiri", sampai 1965-66. .... Dan karena sudah tidak dalam perut kekuasaan Eropa lagi, jelas pembantaian mencapai skala tanpa batas.

Penjajahan Belanda, atau Eropa, atas negeriku telah banyak meredam klimaks-klimaks ini. Tanpa penjajahan, negeriku akan tiada hentinya mencucukan darah putera-puterinya. Perebutan tempat kedua setelah Belanda dalam kekuasaan administrasi di Jawa dalam pertengahan abad 18, yang konon mengucurkan seperempat dari jumlah penduduk wilayah kerajaan Jawa. Sedang seorang pangeran yang mendapat tempat ketiga setelah Belanda, Mangkunegara I, baru-baru ini malahan diangkat menjadi pahlawan nasional. Maka itu seorang wisatawan mancanegara yang mempunyai pengetahuan tentang Jawa dan Indonesia akan mengangguk mengerti mengapa dalam tahun 80-an menjelang akhir abad 20 ini patung para Satria Pandawa berangkat perang naik kereta perang di Jalan Thamrin, Jakarta. Itulah patung dalam babak klimaksnya Mahabharata, "mandi darah saudara-saudara sendiri".

Dalam penjajahan selama 3 1/2 abad kekuatan etnikku tidak pernah menang menghadapi kekuatan Eropa, di semua bidang, terutama bidang militer. Para pujangga dan pengarang Jawa, sebagai bagian dari pemikir dan pencipta dalam rangka peradaban dan budaya 'kampung' menampilkan keunggulan Jawa, bahkan dalam menghadapi Belanda, Eropa, Jawa tidak pernah kalah. Cerita-cerita masturbasik yang dipanggungkan, juga yang tertulis, juga cerita lisan dari mulut ke mulut, menjadi salah satu penyebab aku selalu bertanya: mengapa etnikku tidak mau menghadapi kenyataan? Sedikit pengetahuan yang kudapatkan dari sekolah dasar dan sedikit bacaan dari literatuir Barat, mula-mula tanpa kusadari, makin lama makin kuat, membuat aku melepaskan diri dari peradaban dan budaya 'kampung' asal etnikku sendiri. Sekali lagi maaf. Di luar Jawa pernah suatu kekuatan etnik menang mutlak atas Eropa. Itu terjadi di Ternate pada 1575. Portugis diusir dari bentengnya dan menyerah. Karena ini tidak terjadi di Jawa, tentara yang menyerah itu tidak dibikin mandi darahnya sendiri, tetapi digiring ke pantai, diperintahkan menunggu sampai dijemput armada Portugis. Dan karena terjadi jauh di luar Jawa, di Maluku, tidak pernah disinggung dalam mata pelajaran sejarah resmi sampai 1990 ini. Mungkin perlu waktu sampai seorang peneliti asing menerbitkan karyanya. Atau mungkin sudah pernah terbit hanya aku saja yang tidak tahu.

Sekiranya dahulu aku terdidik suatu disiplin ilmu, misalnya ilmu sejarah, aku akan lakukan penelitian yang akan menjawab: mengapa semua ini terjadi dan terus terjadi. Tetapi aku seorang pengarang dan pendidikan minim, jadi bukan materi-materi historis yang kukaji, tetapi semangat-semangatnya, yang kumulai dengan tetralogi Bumi Manusia, khusus menggarap arus-arus yang datang dan pergi dalam periode Kebangkitan Nasional Indonesia. Dan jadilah kenyataan baru, kenyataan sastra, kenyataan hilir, yang asalnya adalah hulu yang itu juga, kenyataan historis. Kenyataan sastra yang mengandung di dalamnya reorientasi dan evaluasi perdaban dan budaya, yang justru tidak dikandung oleh kenyataan historik. Jadinya karya sastra adalah sebuah thesis, bayi yang memulai perkembangannya sendiri dalam bangunan-atas kehidupan masyarakat pembacanya. Dia sama dengan penemuan-penemuan baru di segala bidang, yang membawa masyarakat selangkah lebih maju.

Sengaja kuawali dengan thema Kebangkitan Nasional Indonesia--yang walau terbatas di bidang regional dan nasional namun tetap bagian dari dunia dan umat manusia--setapak demi setapak juga kutulis pada akar historinya, yang untuk sementara ini belum siap terbit, atau mungkin tidak akan bisa terbit. Dengan demikian telah kucoba untuk dapat menjawab: mengapa bangsaku jadi begini, jadi begitu. Maka juga aku tidak menulis sastra hiburan, tidak mengabdi pada status quo, bahkan berada di luar dan meninggalkan sistem yang berlaku. Akibatnya memang jelas: dianggap menganggu status quo dalam sistem yang berlaku. Dan karena menulis adalah kegiatan pribadi--sekalipun pribadi adalah juga produk seluruh masyarakat, masa sekarang dan masa lalunya--konsekwensinya pun harus dipikul sendirian. Dan kalau ada simpati datang padanya, darimana pun datanganya, bagiku itu suatu nilai lebih, yang sebenarnya tak pernah masuk dalam hitunganku. Untuk itu tentu saja kuucapkan terimakasih.

Sebelum sampai pada tetralogi, telah kutulis sejumlah karya yang semua bakalnya bermuara padanya. Dalam kurun ini pun sudah mulai permusuhan dari kalangan yang pada masa itu sedang giat memburu status quo. Dan mengherankan, bahwa pada mulanya karya-karya itu disambut dengan cukup baik, bahkan beberapa kali malah mendapatkan hadiah penghargaan. Terutama semasa demokrasi terpimpin dalam tahun-tahun akhir 50-an dan paroh pertama 60-an periode doktrin Trisakti--berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, berpribadi di bidang kebudayaan--suatu doktrin universal bagi negara nasionalis di manan pun berada, namun menjadi momok bagi negara-negara padat modal yang haus ladang usaha di seluruh muka bumi. Sejarah mengajarkan banyak tentang kekuasaan modal. Bangsa-bangsa merdeka diubah menjadi bangsa kuli, orang-orang lugu dibentuk menjadi komprador, pengangguran diubah menjadi pembunuh bayaran dengan sergam dan tanda pangkat, rimba-belantara diretas-retas dengan infrastrktur, kota-kota, pelabuhan, muncul dari tiada atas perintahnya, tenaga kerja disedotnya dari mana saja, sampai-sampai dari dusun yang tak pernah terdengar jelas namanya. Pemerintah dari sekian banyak negara dibuatnya hanya jadi pelaksana kemauannya, dan bila sudah tak dihekendakinya, dijatuhkannya. Itu cerita yang membosankan, yang menjadi bagian pengalaman banyak bangsa di dunia, dan pengalaman setiap orang yang memikul akibatnya bersama-sama, baik yang mendapatkan keuntungan darinya mau pun yang dirugikan olehnya. Dan setiap pengalaman bagi seorang pengarang menjadi fondasi bagi proses kreativitasnya, tak perduli pengalaman itu indrawi atau pun batiniah.

Apakah Indonesia dengan kemerdekaannya akan menyesuaikan diri dengan kekuasaan modal yang tidak berkebangsaan itu atau akan menentangnya seperti selama itu dibuktikan dengan revolusi 1945? Sudah sejak tahun-tahun revolusi, Soekarno menolak tawaran monopoli dari Ford dengan imbalan pembangunan jalan raya trans-Sumatra-Jawa. Dalam perkembangan semasa kemerdekaan nasional, dia juga yang mengenyampingkan alternatif penyesuaian: blok kapitalis dan blok komunis. Bukan suatu kebetulan bila dia jugalah yang melahirkan istilah Dunia Ketiga. Apa pun keberatan orang tentang sejumlah kelemahannya, jelas ia mempunyai faktor intern keindonesiaan prima. Ia tak menghendaki negaranya menjadi hemesphere blok mana pun. Dan Indonesia semakin terperosok dalam kesulitan ekonomi. Dalam kesulitan ekonomi luar biasa ini aku memberikan dukunganku, dan dengan sendirinya ikut mendapatkan bagian dari kesulitan tersebut. Dukungan juga datang dari hampir semua organisasi dan gerakan, termasuk gerakan yang mendukung untuk menjatuhkan Soekarno. Dalam masa ini LEKRA mengangkat aku jadi anggota plenonya. Orang bilang organisasi ini adalah organisasi mantel PKI. Sampai sekarang pun aku masih heran, mengapa apa saja yang bersangkutan dengan PKI dicap sebagai sesuatu yang jahat. Yang jelas partai ini kontestan pemilihan umum yang tampil sebagai salah satu pemenang, bukan partai bandit tanpa idealisme. Artinya partai itu bukan kekuatan yang sudah berkuasa dan menerapkan sistim kekuasaannya. Perlu kukedepankan soal kekuasaan, karena yang ini cenderung membuat orang jadi bandit, apalagi kalau puluhan tahun dipegangnya, dan tanpa pernah berkenalan dengan semangat Verlichting, Aufklärung, masih terkungkung dalam peradaban dan budaya 'kampung'.

Puluhan tahun sebagai warganegara Indonesia dengan tanah airnya yang berupa jajaran gunungapi dan penduduknya yang berupa sebaran gungapi lainnya, setiap waktu bisa meletus tanpa pemberitahuan, membuat bawahsadar penuh sesak dengan pengalaman indrawi dan batini.

Dalam penahanan selama 14 tahun 2 bulan, terampas dari semua dan segala, semua pengalaman yang telah lalu aku renungkan dari bawah larsa militer yang menginjakku. Semua menjadi lebih jelas, bahwa semua itu hanya pengalaman alamiah belaka, suatu lingkaran setan histori dari peradaban dan budaya 'kampung' tanpa reorientasi ke dalam atau pun ke luar. Sedang kelahiran apa pun yang dinamakan Orde Baru ini tidak lain dari ulangan kejadian sejarah pada dasawarsa kedua abad 13, dimythoskan oleh pujangga Jawa beberapa abad kemudian sebagai legenda Gandring.

Seorang pemuda, digambarkan sebagai berandalan, memesan keris pada seorang empu keris bernama Gandring. Pemesan itu, Ken Arok, membunuhnya sebelum keris itu usai. Tentu saja semua dilakukan dengan rahasia. Senjata tajam itu secara rahasia pula dipinjamkan pada Kebo Ijo, yang ke mana-mana pamer dengan keris pinjaman, dan bertingkah seakan miliknya sendiri. Pada suatu kesempatan Ken Arok mencurinya dan dengannya ia membunuh penguasa Singasari. Kebo Ijo dihukum mati dan Ken Arok menggantikan Tunggul Ametung sebagai penguasa. Empu Gandring, sebelum menghembuskan nafas penghabisan, sempat menyatakan kutukan: "Arok, anak dan cucunya, 7 raja, akan terbunuh oleh keris itu!" Memang sejarah membuktikan beberapa raja terbunuh, tidak sampai 7, namun pola dari kedua dasawarsa abad 13 tersebut terjadi dan terjadi tanpa tercatat, dalam berbagai varian. Dan dalam abad 20 ini, masih tetap di Jawa, Empu Gandring tersebut menitis dalam di;-Soekarno, sang pandai Pancasila.

Anak desa Pangkur ini (sampai abad 20 di Jawa hanya ada satu desa dengan nama ini, Kecamatan Pangkur, Kabupaten Ngawi) tidak pernah diberitakan mendapatkan pendidikan standard semasanya. Yang diberitakan adalah ia putera Brahma, Ciwa, dan Wisnu sekaligus. Yang jelas ia anak cerdik, pemberani, dan pandai. Mungkin karena pendidikan standardnya minim, boleh jadi malah nihil, dengan lindungan para dewa utama, dengan kekuasaan di tangan, telah menutup babak Hindu Jawa dan mengawali babak Jawa Hindu. Candi makam terbesar di Jawa Timur, Kagenengan, adalah candi makamnya, sekalipun sekarang sudah tak ada sosok bentuknya lagi.

Ken Arok abad ke 13 datang padaku waktu aku dalam pengasingan di Buru. Tanpa Buru barang tentu ia takkan temukan aku, dan dia akan tinggal terkerangkeng dalam legenda. Para dewa utama abad 13 itu masih tetap dewa utama abad 20, penguasa modal, teknologi, informasi. Hanya, waktu kutulis kisah Arok dan Dedes dalam pengasingan di Buru, penampilannya aku persolek dengan tafsiran baru agar dapat keluar dari kerangkeng legenda.

Tentu saja akan ada yang tidak setuju dengan pikiran ini. Dan memang aku tak mengharapkan persetujuan siapa pun. Sebaliknya siapa pun dapat pikirannya masing-masing, apalagi kalau yang bersangkutan tidak pernah diperlakukan seperti diriku, khususnya 10 tahun dibuang dan kerjapaksa di Buru. Seorang sesama tapol--sudah tak teringat olehku siapa namanya--mengajukan pertanyaan: apakah siklus Arok tidak bisa digantikan dengan gambaran lain? Bisa, dan setiap orang bisa membuatnya untuk dirinya sendiri bila punya perhatian, kepentingan dan kemauan, asal tidak melupakan pola peradaban dan budaya 'kampung' yang itu-itu juga, lingkaran setan, yang hanya bisa diputuskan oleh reevaluasi atasnya, Verlichting, Aufklärung, yang menghasilkan kreativitas yang menjebol plafonnya sendiri.

Tentu saja Orde Baru akan menanggapi dengan klisenya: itu pembelaan untuk PKI. Itu hak Orde Baru untuk membela diri. Yang jelas, pada masanya partai ini sah, legal, salah satu kontestan pemenang dalam pemilu, dan karenanya juga mempunyai beberapa orang menteri dalam kabinet. Dia takkan mengkup kemenangannya sendiri. Kup cenderung dilakukan oleh partai yang kalah dalam pemilu, bahkan tidak ikut pemilu.

Dr. J. Krom pernah menyatakan, bahwa petualangan Arok sebelum berkuasa merupakan "schelman roman". Betul. Juga betul, bahwa dalam konsep kekuasaan a la Jawa, dan mungkin juga pada bangsa dari etnis-etnis lain di dunia dengan peradaban dan budaya 'kampung'nya, hanya kekuasaan adikodrati saja yang memungkinkan sesuatu bisa terjadi, maka maraknya seseorang di singgasana kekuasaan hanya terjadi dengan ridlanya. Ini satu lagi acuan ideal-ideal dan peradaban Jawa tentang kekuasaan. Kekuasaan adalah ridla Tuhan dan kalau sudah dicapai, jadilah ia orang kedua sesudah Tuhan. Dengan kekuasaan, semua kejahatan akan terbasuh, bahkan dibenarkan, halal. Selanjutnya menyusul tulisan dan ucapan dari mereka yang ikut mendapatkan keuntungan darinya.

Pernah didongengkan padaku semasa kecil, juga dari bacaan, bahwa yang jahat akan dikalahkan oleh yang baik. Yang tidak pernah didongengkan: yang baik dengan sendirinya juga akan dikalahkan oleh yang jahat. Suatu mata rantai yang sambung-menyambung. Kalau rangkaian itu tidak ada, tak tahu lagi orang mana yang baik dan mana yang jahat. Suatu lingkaran setan yang tak habis-habisnya.

Sebagai pengarang tentu saja dilontarkan padaku pertanyaan yang tidak kalah klisenya: apakah akan menulis tentang masa sekarang? Kan sudah banyak menulis tentang masa lewat yang sudah jadi sejarah? Lagi pula yang sekarang toh juga sejarah, sejarah kontemporer?

Memang banyak dan akan semakin banyak sarjana menerbitkan penelitiannya tentang berbagai aspek Orde Baru. Mereka banyak membantu kita dalam memahami banyak hal. tetapi sebagai pribadi dan pengarang yang ikut memikul beban perubahan, aku memandangnya dengan timbangan nasional. Era Soekarno dengan Trisaktinya tak lain sebuah thesis. Orde Baru antithesis. maka itu bagiku memang belum bisa ditulis, suatu proses yang belum bisa ditulis secara sastra, belum merupakan suatu keutuhan proses nasional, karena memang masih menuju pada sinthesisnya.

Masih di Buru, seorang wartawan Indonesia yang bertingkah-laku sebagai jaksa, mengajukan pertanyaan, apakah aku tidak menaruh dendam terhadap Orde Baru? Ini adalah proses nasional, bukan urusan dendam pribadi. Apa yang kami ceritakan cuma pencerminan tingkat peradaban dan budaya kita sendiri. Kemajuan dan keanekaragaman teknologi, statistik pembangunan ataupun hutang luar negeri, peningkatan infrastrukutr perhubungan dari warisan kolonial, perusakan hutan dan paket banjir tahunan, semua menduduki tempat sebagai rias antithesis dalam proses nasional. Semasa kolonial, Belanda mengekspor pembunuh bayaran berbedil, berseragam dan dengan pangkat-pangkat militer, untuk menaklukkan dan mengendalikan luar Jawa dan Madura. Baru pada 1904, dan sporadis sebelum itu, Belanda mengirimkan orang Jawa tanpa bedil ke luar Jawa-Madura, tapi dengan pacul. Nampaknya kenal betul peta demografis dan geografis Indonesia sehingga dapat menarik kesimpulan klasik yang bisa diambil keuntungannya. Dan Belanda nampaknya juga tahu, para penggantinya tidak akan dapat berbuat lain kecuali meneruskannya; bukan lagi menduduki tempat sebagai ria thesis atau pun antithesis, nampaknya sebagai kodrat yang terbawa oleh kelahiran Indonesia.

Satu ironi lagi: Indonesia, yang secara politis dan administratif dipersatukan oleh Soekarno tanpa pertumpahan darah--sebuah fenomena khusus dalam sejarah umat manusia--harus dipertahankan persatuan dan kesatuannya dengan tradisi kolonial, yaitu dua macam export dari Jawa: pembunuh bayaran berbedil dan orang Jawa berpacul. Dengan tradisi seperti itu, Indonesia mempunyai cacat genetik yang parah. Semaoen--penasihat pribadi Presiden Soekarno--pernah memberikan terapi untuk cacat genetik itu: pindahkan ibukota keluar dari Jawa, ke Palangkaraya, di Kalimantan Tengah. Tetapi Semaoen almarhum sudah tidak sempat mengalami apa yang terjadi dengan hutan-hutan di Kalimantan sekarang. Mengunyah masalah ini dalam sastra sudah pasti membutuhkan waktu lama dan belum tentu memuaskan pengarang mau pun pembacanya. Dan kondisi peradaban dan budaya 'kampung' akan menempatkan pengarangnya jadi sasaran kekuasaan yang merasa terancam kemapanannya. Tentu saja yang dimaksud adalah para pengarang yang coba-coba membuat penilaian dan penilaian kembali peradaban dan budaya 'kampung' yang telah memapankan selapisan golongan atas dalam masyarakatnya. Juga para cendikiawan, juga kelompok-kelompok kecil dalam masyarakat yang telah cerah, tetapi terutama adalah para pengarangnya, karena profesinya tidak terikat pada sesuatu disiplin ilmu. Kepeduliannya pada pengekspresian kesedaran dan bawahsadarnya pribadi, para penguasa--artinya pembesar, bukan pemimpin--sibuk membuat kordon penyelamat kemapanannya. Pengarang dengan demikian, sebagai pribadi yang hanya punya dirinya sendiri, mendapatkan tekanan terberat. Namun apa pun perlakuan yang ditimpakan padanya, pengalaman pribadinya adalah juga pengalaman bangsanya, dan pengalaman bangsanya adalah juga pengalaman pribadinya. Sebagian, kecil atau besar atau seluruhnya, akan membuncah dalam tulisan-tulisannya dan akan kembali pada bangsanya dalam bentuk kenyataan baru, kenyataan sastra. Hakikat fiksi karenanya adalah juga hakikat sejarah.

Apabila sebagai pengarang harus kutangguhkan begitu banyak ketidakadilan di tanahair sendiri, penganiayaan lahir-batin, perampasan kebebasan dari penghidupan, hak dan milik, penghinaan dan tuduhan, bahkan juga perampasan hak untuk membela diri melalui mass-media mau pun pengadilan, aku hanya bisa mengangguk mengerti. Sayang sekali kekuasaan tak bisa merampas harga diri, kebanggaan diri, dan segala sesuatu yang hidup dalam batin siapa pun.

Kekuatiran akan terganggunya kemapanan, yang sejak masa kolonial dikenal sebagai "rust en orde" dan diindonesiamerdekakan menjadi "keamanan dan ketertiban" tidak jarang melahirkan tuduhan-tuduhan menggelikan.

Baik sebelum mau pun selama di Buru dakwaan yang terus-menerus disemburkan Orde Baru adalah: hendak mengubah Pancasila dan Undang-Undang Dasar 45, tanpa pernah mengajukan pembuktian. Biasanya diucapkan di depan appel atau sewaktu santiaji alias indoktrinasi. Salah satu sila dari Pancasila adalah Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Untuk ukuran kemanusiaan, tanpa tambahan adil dan beradab pun, perlakuan mereka terhadap kami cukup memuakkan, bahkan menjijikkan. Dakwaan merubah UUD? Pernah sekali waktu seorang perwira aku dengar bersumbar: Timor Timur? Uh, dalam dua hari bisa kami atasi. Dan benar, Timor Timur kemudian dicaplok, bagian timur P. Timor yang tak pernah diklaim oleh para pendiri Republik yang menyusun UUD 45 itu. Dari dua dakwaan itu tanpa ragu membuat aku membikin kesimpulan: apa yang dituduhkan itu justru apa yang mereka lakukan atau ingin lakukan. Karena sejumlah kejadian cocok dengan kesimpulan, kadang aku cenderung untuk menilainya sebagai rumus. Tapi kemudian kuperlunak menjadi: apa yang terucapkan sebagai X adalah minus X.

Dalam percakapan pribadi beberapa pejabat menyayangkan keanggotaanku pada LEKRA. Jadi menurut gambaran orde Baru, LEKRA adalah organisasi kejahatan. Sampai sekarang pun aku tak pernah menyesal menerima pengangkatan sebagai anggota pleno LEKRA, kemudian diangkat jadi wakil ketua Lembaga Sastra, dan salah seorang pendiri Akedemi Multatuli, semua disponsori LEKRA. Malahan aku bangga mendapat kehormatan sebesar itu, yang takkan diperoleh oleh setiap orang, dan tidak mengurangi kebanggaanku sekiranya benar ia organisasi mantel PKI. Semua itu sudah lewat, tetapi belum menjadi sejarah, karena sebagai proses belum menjadi kebulatan sinthetik. Pada waktu aku masih di Buru ternyata orang pertama LEKRA dan orang pertama Lembaga Sastra sudah lama bebas. Sekiranya aku bukan pengarang, boleh jadi semua perlakuan yang menjijikkan itu tidak akan aku alami. Tetapi pada segi lain, semua yang aku alami merupakan bagian dari fondasi kepengaranganku untuk masa-masa mendatang, sekiranya umur masih memungkinkan dan kesehatan fisik mau pun mental masih bisa diandalkan.

X minus X memang membantu aku dalam memahami Orde Baru, yang mereka anggap akan abadi dalam kebaruannya. Sebagai tapol angkatan terakhir yang akan meninggalkan P. Buru, kami masih harus melakukan korve membuat dua macam surat pernyataan sekian salinan, menyatakan tidak akan menyebarkan Marxisme, Leninisme, Komunisme, momok yang mereka bikin-bikin sendiri untuk menjadi ketakutannya sendiri. Surat lain adalah pernyataan, bahwa sebagai tapol kami telah diperlakukan secara wajar di P. Buru. Secara hukum, surat-surat korve tersebut memang surat dagelan, tetapi dengannya kami bisa membeli nomor untuk embarkasi ke kapal yang berangkat ke Jawa. Betapa indahnya sekiranya surat-surat korve itu tersimpan baik dalam arsif negara. Kertas-kertas itu akan jadi bagian sejarah betapa sekian manusia Indonesia telah membuat topeng dan jubah malaikat kesucian untuk para penguasa dan kekuasaannya. Seorang pemimpin tidak membutuhkan jubah dan topeng.

Di dermaga pelabuhan Namlea, di mana kapal "Tanjungpandan" sudah siap mengangkut, 500 orang angkatan terakhir yang akan diberangkatkan pulang ke Jawa sudah meninggalkan daratan. Tinggal beberapa belas di antara kami, termasuk aku. Letkol Lewirisa komandan kamp terakhir datang padaku dan bilang tanpa ditanya tanpa diharapkan: "Pram, pelayaran akan langsung ke Jakarta." Itu berarti X minus X, kami, rombongan beberapa belas orang tidak menuju ke Jakarta. Baru kami boleh naik ke kapal dan dikucilkan dari yang lain-lain.

Kamp kerja paksa yang kami tinggalkan semula dinamai Tefaat, tempat pemanfaatan tenaga kerja kami, sisa hidup kami, dengan harus membiayai hidup, perumahan, jaringan jalanan ekonomi dan lingkungan, membuat sawah dan ladang dari padang ilalang dan hutan, dan masih harus memberi makan para serdadu yang menjaga kami, masih ditambah dengan pembunuhan terhadap sejumlah dari kami. Menurut korve tulis, itu harus dinyatakan wajar. Juga mereka yang tewas dalam kerjapaksa untuk mendapatkan uang. Juga pembayaran pajak oleh tapol yang melakukan pertukangan dan kerajinan tangan. Untuk siapa dan kepada siapa tidak jelas. Menurut korve tulis ini juga harus dinyatakan wajar. Dan bangunan-bangunan, puluhan banyaknya, besar dan kecil, dengan peralatan rumahtangga, semua dibangun dan dibiayai oleh tapol, juga harus dianggap wajar bila dijual pada instansi lain tanpa ganti rugi pada tapol. Juga perampasan begitu saja sapi-sapinya. Dan semua ini memang sedang menuju pada sejarah, tapi belum sejarah. Masih panjang lagi daftarnya. Semua kebanditan, besar dan kecil akan terpulang pada bangsa ini, bangsaku, yang melahirkan suatu kekuasaan macam ini. Bukan maksudku mendirikan dunia utopi dengan bangsa ini, menduduki bagian dunia dengan tanpa cacat--bangsa-bangsa lain pun punya segi gelapnya--yang aku maksudkan adalah bangsa ini belum melahirkan cercah kecerahan, Verlichting, Aufklarung. Para brahmin tetap masih menduduki tempat sebagai asesori kekuasaan kasta satria, yang hidup dari dan untuk kekuasaan semata, karena memang tidak produktif apalagi kreatif, seperti sebelum datangnya kolonialisme. Tidak mengherankan bila ribuan naskah isinya berputar sekitar ke"hebat"an para satria dalam membunuh yang dianggap lawannya, dan ribuan lagi naskah yang isinya resep tentang hidup bahagia (dalam alam kehidupan sumpek) dan nasihat-nasihat berkelakuan indah dan baik (dalam alam kehidupan banditisme), tentang alam gaib dan teknik berhubungan dengannya (dalam suasana belum lagi mengenal lingkungan sendiri).

Apa yang dikatakan Letkol Lewerisa tepat minus X. Kami beberapa belas orang sebelum kapal sampai ke Jakarta, diturunkan di Tanjungperak, Surabaya, untuk disimpan di pulau penjara Nusa Kambangan, di selatan Jawa. Hanya karena jasa pers internasional, yang meributkannya, akhirnya kami sampai ke Jakarta, memasuki penjara baru yang lebih longgar. Dalam tahanan kota sejak akhir 1979 sampai 1991, tanpa suatu keputusan pengadilan mana pun. Banyak terjadi korban tuduhan baru, yang, sebagai pengarang tentu saja memperkaya materi yang harus diendapkan. Setidak-tidaknya, membuat sejarah hidup pengarang menjadi semakin panjang.

Dalam tahanan kota dengan kebebasan nisbiah dapat kuikuti koran dalam dan luar negeri. Tuduhan ternyata datang berantai dari Indonesia sendiri sampai dari bagian-bagian Asia Timur dan Eropa: semasa Soekarno aku melarang terbit sejumlah buku sesama pengarang. Aku menteror para pengarang Indonesia yang tidak sepikiran dengan artikelku "Yang Harus Dibabat dan Harus Dibangun". Bahkan seorang tokoh sastra terkemuka, memberikan kuliah pada suatu universitas negeri, menyatakan telah dipecat karena ulahku. Kebetulan tokoh tersebut, seperti halnya sejumlah yang lain, semasa revolusi justru menjadi pejabat pada dinas balatentara pendudukan Belanda, sebagian lain, karena umurnya, barangtentu tidak menyertai revolusi.

Pecat-memecat dari sesuatu jabatan bukan urusanku, dan memang tidak pernah. Tuduhan-tuduhan itu hanya tabir asap terhadap apa yang mereka sendiri telah dan ingin lakukan. Pada hari-hari awal peristiwa 1965 merekalah yang menteror dan menghancurkan seluruh kertasku, termasuk naskah Panggil Aku Kartini Saja jilid III dan IV, Kumpulan Karya Kartini, Wanita Sebelum Kartini, Kumpulan Cerpen Bung Karno, 2 jilid terakhir trilogi Gadis Pantai, Sebuah Studi tentang Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi, Studi Percobaan tentang Sejarah Bahasa Indonesia. Sedang direktur Balai Pustaka menjawab atas permintaaanku untuk menarik kembali 2 jilid sastra Pra-Indonesia, mendapat jawaban: telah dibakar atas permintaan atasan.

Seorang tokoh sastra penting yang semasa Orla menempatkan diriku sebagai lawan, pernah menyampaikan nama-nama tokoh sastra penting dewasa ini yang ikut menyerbu ke rumahku pada 1965 tersebut. Malahan sebelum menyerbu telah mendapat pesan dari tokoh sastra generasi lebih tua agar mengambilkan naskah Ensiklopedi Sastra Indonesia yang sedang aku susun.

Pada awal tahun 80-an Beb Vuyk di Belanda melancarkan tuduhan, LEKRA mengirimkan 'knokploeg' untuk menghajar lawan-lawannya. Di antara kurbannya adalah musikolog Bernard Ijzerdraat. Di Belanda isyu tentang pengiriman knokploeg nampaknya tetap hidup sampai menjelang akhir 1991. Waktu terakhir kali Beb Vuyk datang ke Indonesia dan menemui musikolog tersebut, ia mendapat sangkalan darinya. Namun ia tak pernah merevisi tuduhannya. Sebaliknya beberapa anggota LEKRA telah mereka bunuh, di antaranya adalah pematung nasional Trubus dalam perjalanan ke Jakarta memenuhi panggilan Presiden Soekarno. Sampai sekarang tidak ada yang pernah mengaku bertanggungjawab, juga atas pembunuhan ratusan ribu saudaranya sendiri. Memang beda dari apa yang dinamai kaum teroris di Utara, begitu beraksi begitu menyatakan dirinya yang bertanggungjawab, mereka tidak memerlukan topeng atau pun jubah malaikat. Jangankan pembunuhan massal, pencurian sekecil-kecilnya adalah kejahatan, dan semua itu bisa terjadi hanya karena peradaban dan budaya 'kampung', peradaban dan budaya masyarakat bangsa-bangsa yang terasing, merasa tidak aman dan terancam karena ulah sendiri, dan topeng dan jubah kesucian menjadi seragam parade yang mengasyikkan untuk dipanggungkan dalam drama-komik.

Dapat dibayangkan betapa dahsyatnya tugas mengelola semua materi yang belum selesai itu dalam suatu karya sastra. Bukan mencerminkan atau memantulkan kejadian-kejadian, karena sastra tidak bertugas memotret, tetapi mengubah kenyataan-kenyataan hulu menjadi kenyataan sastrawi, yang membawa pembacanya lebih maju daripada yang mapan.

Apakah sikap demikian sikap subversif, atau kriminal? Itu pun terserah pada tuan-tuan yang berkuasa, yang mempunyai serdadu, polisi, dan perangkat administratif. Tindakannya tak lain dari apa yang tingkat peradaban budayanya bisa berikan. Sekiranya lebih maju dari takaran peradaban dan budayanya, semoga demikian, boleh jadi itu suatu isyarat positif, kutukan 7 turunan Gandring tidak akan berlaku sampai 2 generasi, karena babak sinthesis sedang di ambang pintu. Yang jelas, semua yang telah terjadi akan abadi dalam ingatan bangsa ini dan umat manusia sepanjang abad, tak peduli orang suka atau tidak. Para pengarang akan menghidupkannya lebih jelas dalam karya-karyanya. Para pembunuh dan terbunuh akan menjadi abadi di dalamnya daripada sebagai pelaku sejarah saja. Topeng dan jubah suci akan berserakan.

Sekali lagi, maaf.

Pramoedya Ananta Toer

Galeri Karya

Tugas perjuangan pembebasan nasional adalah menghancurkan musuh rakyat di bawah ini:

Total Tayangan Laman

Cari Di Blog Ini

Memuat...

propaPOSTER

propaPOSTER
Bebaskan rakyat Papua!